Makanan yang Mengandung Garam Tersembunyi, Waspada Bahayanya

Jakarta, Prince Cooke Indonesia

Mengonsumsi

garam

secara berlebihan dalam jangka panjang dapat memicu lonjakan tekanan darah (hipertensi) sekaligus memberatkan kerja organ ginjal.

Ancaman ini kerap datang dari kandungan “garam tersembunyi” yang mengendap di dalam makanan olahan sehari-hari tanpa disadari.

Direktur Departemen Nefrologi dan Transplantasi Rumah Sakit Umum Aakash Healthcare India, Dr. Vikram Kalra, menjelaskan bahwa mayoritas asupan natrium harian masyarakat tidak hanya berasal dari garam dapur saat memasak, melainkan dari produk olahan dan kemasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan batas konsumsi garam bagi orang dewasa kurang dari 5 gram per hari (sekitar satu sendok teh). Batasan ini mencakup seluruh asupan dari masakan rumah, makanan kemasan, hingga hidangan restoran.

“Perlu dicatat, banyak makanan yang tidak memiliki rasa asin khas tetapi mengandung kadar garam tinggi, seperti camilan kemasan, mi instan, dan makanan olahan lainnya,” ujar Dr. Kalra, mengutip

Hindustan Times

.

Konsumsi natrium yang melebihi batas aman, terutama pada orang dengan kondisi medis tertentu, dapat menimbulkan sejumlah gejala peringatan yang patut diwaspadai:

– Penurunan Urine: Volume air seni yang dikeluarkan menurun secara drastis.

– Pembengkakan (Edema): Muncul pembengkakan baru pada area tubuh tertentu.

– Kencing Berdarah: Terdapat bercak atau kandungan darah di dalam urine.

– Sesak Napas: Gangguan pernapasan yang semakin memburuk.

– Muntah Berkelanjutan: Mengalami mual dan muntah secara terus-menerus.

Secara medis, konsumsi garam berlebih pada pasien yang berada dalam pengawasan dokter juga ditandai oleh lonjakan kadar kreatinin, fluktuasi konsentrasi elektrolit, serta perubahan pola buang air kecil.

Dr. Kalra menekankan bahwa kontrol asupan garam wajib dilakukan secara lebih ketat oleh kelompok berisiko tinggi, di antaranya penderita:

– Penyakit ginjal kronis

– Hipertensi (tekanan darah tinggi)

– Gagal jantung kongestif

– Pasien dengan riwayat batu ginjal

Meski demikian, membatasi penggunaan garam bukan berarti harus mengonsumsi makanan hambar. Cita rasa hidangan tetap dapat ditingkatkan secara aman menggunakan bumbu dan bahan alami, seperti rempah-rempah, bawang putih, serta perasan jus lemon.

Garam sebenarnya tidak berbahaya jika dikonsumsi dalam batas wajar. Namun, guna mencegah risiko penyakit kardiovaskular dan kerusakan ginjal jangka panjang, masyarakat diimbau untuk memprioritaskan bahan makanan segar, cermat membaca label informasi nilai gizi pada produk kemasan, serta membatasi konsumsi makanan olahan.

(wiw)

Baca lagi: Pembatasan Pertalite di SPBU Balikpapan, Mobil Dilarang Sebelum 22.00

Baca lagi: Bilal Hasan Ungkap 5 Petarung Idola: Ada McGregor, Tak Ada Khabib

Baca lagi: Ada Aksi 27 Agustus, Jalan Gatot Subroto Depan DPR Ditutup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: