7 Kuliner Ekstrem dari Berbagai Negara, Berani Coba?

Daftar Isi

1. Blood pudding – Inggris dan Swedia

2. Kaki kodok – Prancis

3. Daging ular derik – Amerika Serikat

4. Hakarl – Islandia

5. Casu marzu – Italia

6. Surstromming – Swedia

7. Fugu – Jepang

Jakarta, Prince Cooke Indonesia

Tak semua

makanan

yang lezat memiliki tampilan yang menggugah

selera

. Di berbagai negara, sejumlah

hidangan

justru terlihat aneh, bahkan membuat sebagian orang ragu untuk mencicipinya.

Namun, penampilan tidak selalu menggambarkan rasa. Makanan yang bagi sebagian orang terlihat ekstrem justru telah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat setempat selama bertahun-tahun.

Bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari darah hewan, kaki kodok, daging ular, hingga ikan yang dapat mengandung racun. Teknik pengolahan yang tepat menjadi bagian penting agar bahan-bahan tersebut dapat dikonsumsi dan menghasilkan cita rasa yang khas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut sejumlah kuliner ekstrem dari berbagai negara yang menarik untuk diketahui, seperti dirangkum dari berbagai sumber:

1. Blood pudding – Inggris dan Swedia

Blood pudding atau black pudding merupakan olahan darah yang umumnya dibuat menyerupai sosis. Darah hewan dicampur dengan bahan lain seperti lemak, gandum atau oat, serta rempah-rempah sebelum dimasak.

Di Swedia, hidangan serupa dikenal sebagai blodpudding. Warnanya yang gelap mungkin membuat sebagian orang berpikir dua kali sebelum mencicipinya. Namun, bagi penggemarnya, makanan ini memiliki rasa gurih dengan cita rasa umami yang kuat.

Di Swedia, blodpudding dapat disajikan bersama selai lingonberry dan bacon. Perpaduan tersebut menghasilkan kombinasi rasa gurih, manis, dan sedikit asam yang khas.

Meski terdengar ekstrem bagi sebagian orang, olahan darah sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam tradisi kuliner berbagai negara. Hidangan serupa juga dapat ditemukan di sejumlah wilayah Eropa dan Asia.

2. Kaki kodok – Prancis

Kaki kodok menjadi salah satu hidangan yang kerap dikaitkan dengan kuliner Prancis. Bahan ini biasanya dimasak menggunakan mentega, bawang putih, dan rempah-rempah hingga menghasilkan aroma yang harum.

Soal rasa, kaki kodok justru dikenal memiliki cita rasa yang relatif ringan. Teksturnya lembut dan kerap dibandingkan dengan perpaduan daging ayam dan ikan berdaging putih.

Kaki kodok juga bukan hanya dikonsumsi di Eropa. Di Indonesia, misalnya, terdapat swikee, hidangan yang berkembang dalam tradisi kuliner Tionghoa di sejumlah daerah, terutama Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kaki kodok dapat dimasak dengan bumbu tauco, bawang putih, dan jahe, atau diolah menjadi tumisan maupun hidangan goreng.

3. Daging ular derik – Amerika Serikat

Di sejumlah wilayah Amerika Serikat bagian selatan dan barat daya, daging ular derik atau rattlesnake dikenal sebagai salah satu makanan yang tidak biasa. Daging ular biasanya dibersihkan, dipotong, kemudian dibalut tepung sebelum digoreng. Hasil akhirnya memiliki bagian luar yang renyah dengan daging yang lembut jika dimasak dengan tepat.

Menariknya, cita rasa daging ular disebut tidak terlalu kuat. Teksturnya bahkan kerap dibandingkan dengan perpaduan daging ayam dan ikan berdaging putih. Bagi sebagian orang, mencicipi daging ular bukan sekadar soal rasa, tetapi juga menjadi pengalaman kuliner yang berbeda dari makanan sehari-hari.

4. Hakarl – Islandia

Jika makanan ekstrem identik dengan aroma menyengat, hakarl mungkin menjadi salah satu contohnya. Hakarl merupakan hidangan tradisional Islandia yang dibuat dari daging hiu Greenland.

Daging tersebut melalui proses pengolahan dan fermentasi untuk menghilangkan senyawa berbahaya yang secara alami terdapat pada daging hiu tersebut. Setelah melalui proses fermentasi, daging hiu kemudian dikeringkan.

Proses tersebut menghasilkan aroma yang sangat kuat dan menjadi ciri khas hakarl. Bagi masyarakat Islandia, hakarl bukan sekadar makanan dengan bau menyengat. Hidangan ini merupakan bagian dari warisan kuliner yang telah bertahan selama berabad-abad.

5. Casu marzu – Italia

Casu marzu mungkin menjadi salah satu makanan yang paling ekstrem dalam daftar ini. Keju tradisional dari Sardinia, Italia, tersebut terkenal karena mengandung larva lalat hidup.

Larva berperan dalam proses pematangan keju dan menghasilkan tekstur serta rasa yang khas. Bagi sebagian penikmatnya, casu marzu memiliki cita rasa kuat dan pedas dengan tekstur yang sangat lembut.

Namun, makanan ini juga memiliki persoalan keamanan pangan dan regulasi. Produksi dan pemasaran casu marzu telah dilarang di Uni Eropa sejak 2002 karena dinilai tidak memenuhi ketentuan kesehatan yang berlaku. Meski demikian, keju tersebut tetap menjadi bagian dari warisan kuliner Sardinia dan masih menarik perhatian pencinta kuliner ekstrem.

6. Surstromming – Swedia

Surstromming merupakan ikan haring dari Laut Baltik yang diawetkan melalui proses fermentasi di dalam kaleng.

Makanan ini terkenal bukan karena tampilannya, melainkan aromanya yang sangat kuat. Begitu kaleng dibuka, bau fermentasi yang tajam dapat langsung tercium sehingga surstromming sering dianggap sebagai salah satu makanan dengan aroma paling menyengat di dunia.

Masyarakat Swedia biasanya menikmati surstromming dengan cara yang relatif sederhana. Ikan fermentasi tersebut disajikan bersama roti tipis, kentang, dan pelengkap seperti bawang.

Bagi orang yang belum terbiasa, aroma surstromming mungkin menjadi tantangan tersendiri. Namun, bagi penggemarnya, rasa fermentasinya justru menjadi daya tarik utama.

7. Fugu – Jepang

Fugu merupakan hidangan berbahan ikan buntal yang terkenal karena mengandung tetrodotoksin, racun yang dapat berakibat fatal jika ikan tidak diolah dengan benar.

Karena itu, pengolahan fugu di Jepang memiliki aturan ketat dan membutuhkan keterampilan khusus. Bagian tubuh ikan yang mengandung racun harus dipisahkan dengan tepat sebelum disajikan.

Fugu biasanya diolah menjadi sashimi atau hidangan berkuah. Dagingnya dikenal memiliki rasa yang ringan dengan tekstur khas.

Bagi wisatawan, mencicipi fugu sering kali menjadi pengalaman kuliner yang berbeda. Bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena proses pengolahan dan sejarah panjang hidangan tersebut dalam budaya kuliner Jepang.

(tis/tis)

[Gambas:Video Prince Cooke]

Baca lagi: Cara Aktifkan Kuota Internet Rollover di Telkomsel, XL, dan Indosat

Baca lagi: Sakit Hati Sering Diejek, Pria Bakar Kantor Diskominfo Kukar

Baca lagi: Puncak Hujan Meteor Perseid Malam Ini, Cek Jadwal dan Cara Lihatnya

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: